SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat barisan penanganan darurat dengan menyaring dan melatih personel relawan kebencanaan lintas daerah. Langkah mitigasi ini dipusatkan di BPKH Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (4/9/2026), di tengah ancaman cuaca kering yang melanda sejumlah titik.

Pelatihan tersebut melibatkan 150 peserta yang sebelumnya telah melalui tahapan seleksi ketat sebelum resmi bergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah. Seluruh personel disiapkan agar mampu bergerak mandiri tanpa jeda birokrasi saat musibah terjadi.

Fokus Pembekalan Urban SAR Bersama Basarnas

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan, peningkatan kapasitas ini melibatkan instruktur dari Basarnas. Materi pembekalan difokuskan pada kemampuan taktis evakuasi korban di medan sulit.

Salah satu menu utama pelatihan mencakup teknik Urban Search and Rescue (Urban SAR) untuk mempercepat pencarian korban di area permukiman atau reruntuhan bangunan. Kecepatan tindakan menjadi prioritas utama demi menekan risiko fatalitas.

“Jumlahnya sekitar 150 orang dari seluruh Jawa Tengah. Mereka mengikuti proses seleksi terlebih dahulu sebelum ditetapkan sebagai peserta pelatihan,” jelas Bergas.

Kelalaian Manusia Picu Kebakaran Lahan Pertanian

Dari hasil pemetaan sementara BPBD Jawa Tengah, kebakaran hutan di wilayah setempat sebenarnya tidak mendominasi. Titik api justru paling kerap dilaporkan membakar lahan perkebunan serta area pertanian milik warga.

Pemicu utamanya adalah aktivitas pembakaran sisa jerami atau rumput yang ditinggalkan warga tanpa pengawasan memadai. Tiupan angin kencang di musim kemarau kerap menerbangkan bara ke semak kering di sekitarnya hingga merembet ke titik pembuangan sampah.

“Ketika ditemukan hotspot yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran, BPBD harus segera merespons dan berkoordinasi dengan pemadam kebakaran di wilayah setempat,” kata Bergas.

Kesiapsiagaan Pasokan Air Bersih dan Imbauan Api Sampah

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sumarno mengingatkan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan ceroboh saat memanfaatkan perapian terbuka di lahan kering. Titik api yang diabaikan dapat meluas dengan cepat saat diterpa angin kencang.

“Kalau membakar sampah, jangan ditinggalkan. Pastikan api benar-benar sudah padam, karena angin dapat membuat bara atau api menyebar ke lokasi lain,” ujarnya.

“Apresiasi dan dukungan kami berikan untuk kegiatan peningkatan kapasitas para relawan ini. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat,” tutur Sumarno saat memimpin apel pembukaan.

Selain ancaman kobaran api lahan, Pemprov Jateng terus memantau cadangan air bersih bagi masyarakat. Jalur distribusi suplai air saat ini masih dapat dipenuhi oleh pemerintah kabupaten dan kota secara mandiri, kendati pemerintah provinsi tetap menyiagakan armada pendukung apabila sewaktu-waktu pemerintah daerah mengajukan bantuan tambahan.