Rantai Pasok Kopi Jember Dikunci Masalah Klasik, HIPMI Fasilitasi Petani Silo Tembus Pasar Ekspor

Petani kopi Kecamatan Silo, Edi Susianto, menyampaikan keluhan soal harga biji kopi yang tidak bergerak meski kualitas meningkat dalam Forum Komunikasi Ekosistem Kopi Jember 2026 di Aula RRI Jember, Selasa (1/9/2026).
Penulis: Wahyu
Selasa, 01 September 2026 | 19:03:31 WIB

JEMBER — Forum Komunikasi Ekosistem Kopi Jember 2026 yang digelar di Aula RRI Jember, Selasa (1/9/2026), menjadi ajang pertama yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan kopi daerah. Kegiatan bertema "Bersatu Membangun Ekosistem Kopi Jember yang Kuat, Berdaya Saing dan Mendunia" ini dihadiri kelompok tani, pengusaha olahan, akademisi, media, hingga petugas Bea Cukai.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jember, Holand Sanjaya, menegaskan komoditas kopi bukan sekadar hasil tani, melainkan identitas daerah yang bisa menggerakkan ekonomi Jember.

Biang Kerok: Rantai Pasok yang Putus di Tengah Jalan

Isu utama yang dibahas dalam forum ini adalah belum kokohnya rantai pasok kopi dari hulu ke hilir. Masalah stabilitas harga, konsistensi kualitas, keterjaminan pasokan, hingga akses pasar ekspor disebut masih berjalan parsial dan tanpa wadah yang menyatukan.

Edi Susianto, petani kopi asal Kecamatan Silo, mengungkapkan bahwa produk kopi di tingkat petani sebenarnya melimpah. Persoalannya, mereka belum terhubung secara optimal dengan eksportir dan pasar yang lebih luas.

Petani Silo: Kualitas Naik, Harga Jalan di Tempat

Dilema lain yang dihadapi petani adalah tuntutan peningkatan kualitas yang tidak diimbangi insentif harga. Menghasilkan biji kopi petik merah berkualitas tinggi membutuhkan proses pengolahan telaten dan biaya operasional besar, namun harga beli di pasaran tidak bergerak.

"Kami dituntut menaikkan kualitas, tapi harganya sama saja. Harusnya ada insentif harga yang layak kalau kualitas biji kopinya lebih baik," tegas Edi.

Tantangan makin berat dengan adanya perubahan iklim. Perwakilan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Bayu Setyawan, memaparkan bahwa cuaca ekstrem telah memangkas hasil panen kopi di Jawa Timur hingga 30-40 persen.

Indikasi Geografis: Kunci Agar Kopi Jember Dilirik Dunia

Bayu menilai masalah Jember bukan semata kelangkaan bahan baku, melainkan standarisasi mutu dan konektivitas antar-pelaku usaha. Ia menyoroti pentingnya pendaftaran Indikasi Geografis (IG) untuk membentuk identitas kopi Jember agar punya daya saing di pasar global.

"Penguatan kualitas dan kuantitas harus berjalan beriringan. Selain itu, pendaftaran Indikasi Geografis serta pembentukan identitas kopi Jember sangat krusial agar produk lokal kita punya daya saing tinggi," jelasnya.

HIPMI: Usaha Besar Membutuhkan Banyak Tangan

Menanggapi persoalan tersebut, HIPMI Jember menyatakan siap menjadi jembatan kolaborasi antara pelaku usaha dan petani agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

"Kita harus bergandengan tangan karena usaha besar membutuhkan banyak tangan," kata Holand Sanjaya.

Koordinator Penyelenggara Forum dari HIPMI Jember, Haikal, berharap pertemuan ini melahirkan kerja sama konkret, bukan sekadar wacana. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama meliputi penyatuan rantai pasok, peningkatan mutu, hingga menghubungkan petani langsung dengan eksportir.

"Ini menjadi langkah awal untuk membangun kerja sama yang konkret. Penyatuan rantai pasok dari hulu ke hilir, peningkatan mutu, hingga keterhubungan petani langsung dengan eksportir adalah pekerjaan rumah bersama agar kopi Jember bisa benar-benar bersaing di pasar nasional maupun internasional," pungkas Haikal.

Reporter: Wahyu