Ekosistem Sepak Bola Putri Indonesia Kini Terbentuk, Mimpi Jadi Profesional Tak Lagi Jauh

Pesepakbola putri Indonesia berlatih di lapangan, menandai terbentuknya ekosistem kompetisi berjenjang dari usia muda hingga senior.
Penulis: Wahyu
Senin, 24 Agustus 2026 | 21:01:31 WIB

LINKARFAKTA.COM — Selama bertahun-tahun, pesepakbola putri Indonesia berjuang tanpa peta jalan yang jelas. Tidak adanya liga resmi membuat mereka kesulitan mengukur progres, sementara pintu menuju Timnas Indonesia Putri terasa begitu jauh. Kondisi itu kini berubah total.

Djarum Foundation membangun fondasi kompetisi dari akar rumput melalui tiga ajang berjenjang: MilkLife Soccer Challlenge All-Star U-12, Hydroplus Soccer League (HPSL) All Star U-15 dan U-18, serta Srikandi Merdeka Cup 2026. Ketiganya disebut sebagai trilogi sepak bola putri yang menjadi batu loncatan menuju panggung profesional.

Jazlyn Kayla: Dari Lapangan Sekolah ke Garuda Pertiwi

Salah satu pemain yang merasakan langsung manfaat ekosistem ini adalah Jazlyn Kayla. Bek Garuda Pertiwi yang mulai menekuni sepak bola sejak kelas 5 SD ini mengaku antusiasmenya melonjak begitu menyadari kompetisi berjenjang kini tersedia.

"Ya yang pasti aku senang banget udah mulai liga bergulir dan itu pastinya aku ingin banget main di situ, terus aku juga excited banget pengin main," ujar Jazlyn kepada CNNIndonesia.com.

Perjalanan Jazlyn tidak selalu mulus. Ia sadar betul bahwa berkarier di sepak bola berarti berdamai dengan cedera, kegagalan, dan tekanan mental. Namun, pemain muda ini justru melihat semua tantangan itu sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.

"Aku sudah tahu menghadapi sepak bola juga [harus] bagaimana, pasti menghadapi jatuh bangkitnya, terus luka, cedera, tapi pasti di setiap itu ada hal baiknya," tuturnya.

Target Jangka Pendek dan Impian ke Real Madrid

Jazlyn tidak ingin berpuas diri. Ia memasang target berlapis untuk menjaga motivasi, mulai dari tampil maksimal di Srikandi Merdeka Cup hingga persiapan menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-17 yang akan berlangsung setelah turnamen ini usai.

"Untuk ke depannya yang pastinya aku ingin jadi pesepakbola Indonesia yang lebih baik dan lebih baik lagi, dan yang pastinya aku pengin berkembang terus," ucap pemain yang juga memiliki ambisi bermain di Eropa itu.

"Selalu mau ngasih yang terbaik di mana pun itu. Dan setelah [Srikandi Merdeka Cup] ini juga yang [Kualifikasi Piala Asia] U-17, sudah ada persiapan buat AFC U-17, dan itu juga tetap punya target," sambungnya.

Di luar target jangka pendek, Jazlyn menyimpan mimpi besar: suatu hari bisa memperkuat Real Madrid, salah satu klub wanita terbesar di dunia. Impian yang dulu terasa absurd bagi anak-anak Indonesia kini mulai masuk akal seiring terbukanya jalan karier di dalam negeri.

Trilogi Turnamen: Jembatan Menuju Liga Profesional

Kurang dari dua bulan setelah Srikandi Merdeka Cup 2026 usai, Indonesia Women's League 2026/2027 akan resmi bergulir pada Oktober. Rangkaian ini memastikan regenerasi pemain berjalan sistemik, bukan sekadar wacana.

Kehadiran liga profesional juga mengubah cara pandang orang tua dan masyarakat terhadap sepak bola putri. Kini ada alasan konkret untuk mendukung anak perempuan bermain bola — bukan hanya sebagai hobi, melainkan sebagai investasi masa depan.

Ekosistem yang mulai terbentuk ini menjadi jawaban atas keraguan selama ini. Putri-putri Indonesia tidak lagi sekadar bermimpi; mereka kini punya peta jalan yang jelas untuk mewujudkannya.

Reporter: Wahyu