Pola Asuh Anak Dewasa: 5 Kebiasaan Orang Tua yang Sebaiknya Dihentikan

Orang tua mendampingi anak dewasa dalam diskusi keluarga di ruang tamu.
Penulis: Doni
Senin, 24 Agustus 2026 | 06:06:02 WIB

LINKARFAKTA.COM — Memiliki anak yang mulai beranjak dewasa adalah kebanggaan tersendiri. Namun, momen ini juga menjadi ujian terbesar bagi orang tua untuk mengubah cara pandang dalam mendampingi. Alih-alih terus mengawasi, orang tua kini dituntut untuk memberi kepercayaan dan ruang agar anak belajar mandiri.

Pendekatan ini penting karena pola asuh yang terlalu mengontrol justru bisa memengaruhi harga diri, kemandirian, dan kesejahteraan mental anak. Konselor dan terapis keluarga, Archana Singhal, mengingatkan bahwa ketika orang tua selalu mengambil keputusan untuk anak yang sudah dewasa, mereka berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang cemas dan takut salah melangkah.

“Menjadi orang tua yang baik pada masa ini berarti memberikan arahan dan pendampingan, bukan kontrol,” ujarnya, dikutip dari Hindustan Times, Minggu, 23 Agustus 2026.

Lantas, apa saja kebiasaan yang sebaiknya mulai dikurangi? Berikut lima di antaranya.

1. Berhenti Mengambil Semua Keputusan Hidupnya

Ini adalah langkah tersulit, tetapi paling penting. Orang tua perlu berhenti mendikte pilihan terkait pendidikan, karier, hingga pernikahan anak.

Berikan arahan dan nasihat sebagai bahan pertimbangan, tetapi biarkan keputusan akhir berada di tangan anak. Dengan begitu, mereka belajar bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.

2. Jangan Anggap Setiap Kesalahan sebagai Kegagalan

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Ketika anak dewasa melakukan kesalahan, jangan langsung turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya.

Coba tanyakan, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?” Hindari meremehkan atau menyalahkan. Beri mereka waktu dan ruang untuk memahami tindakan serta menerima konsekuensinya.

3. Berhenti Mengintip Kehidupan Pribadinya

Setiap anak, sekecil apa pun usianya, memiliki hak atas privasi. Terus-menerus memantau keberadaan, keuangan, pesan, atau aktivitas media sosial mereka hanya akan menunjukkan kurangnya kepercayaan.

Hormati batasan pribadi mereka sambil tetap menjaga komunikasi yang terbuka. Rasa percaya yang Anda berikan akan membuat anak lebih nyaman untuk bercerita.

4. Berhenti Membandingkan dengan Orang Lain

Membandingkan anak dengan saudara, sepupu, atau teman keluarga adalah kebiasaan yang perlu dihilangkan. Hal ini dapat memengaruhi harga diri dan membuat mereka merasa tidak cukup baik.

Fokuslah pada perkembangan pribadi mereka dan sejauh mana mereka telah bertumbuh. Apresiasi setiap pencapaian, sekecil apa pun, tanpa perlu melibatkan orang lain sebagai pembanding.

5. Jangan Buat Anak Merasa Bersalah atas Pilihannya

Tekanan emosional sering kali menjadi alat kontrol yang paling halus, tetapi paling menyakitkan. Pernyataan seperti, “Kamu akan mengecewakan kami kalau mengambil pekerjaan itu,” dapat membuat anak merasa bersalah karena memilih sesuatu yang menurut mereka tepat.

Tekanan semacam ini tidak hanya merusak kepercayaan diri, tetapi juga dapat menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga. Dukunglah pilihan anak selama itu positif, meskipun berbeda dari harapan Anda.

Melepas kendali memang tidak mudah. Namun, dengan memberikan kepercayaan dan ruang untuk mandiri, Anda sedang membekali anak dengan keterampilan hidup yang paling berharga: keberanian untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Reporter: Doni