LINKARFAKTA.COM — Pemerintah Singapura resmi memasukkan vaksin COVID-19 ke dalam jadwal imunisasi nasional mulai 12 Oktober 2026. Kebijakan ini menyasar anak-anak hingga orang dewasa, dengan prioritas lansia 60 tahun ke atas dan kelompok rentan secara medis. Buat ibu di Indonesia, ini jadi gambaran bagaimana vaksin COVID-19 bergeser dari darurat menjadi rutin.

Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) bersama Communicable Diseases Agency (CDA) mengumumkan vaksin COVID-19 akan masuk ke National Childhood Immunisation Schedule (NCIS) dan National Adult Immunisation Schedule (NAIS). Artinya, vaksin ini tidak lagi diberikan hanya saat situasi darurat, tapi jadi bagian dari jadwal imunisasi reguler.

Keputusan tersebut diambil karena COVID-19 masih beredar di masyarakat dan bisa menyebabkan penyakit berat. Kelompok yang paling berisiko adalah lansia dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Siapa Saja yang Direkomendasikan?

MOH dan CDA merilis daftar kelompok yang direkomendasikan menerima vaksin COVID-19 dalam jadwal imunisasi nasional. Cakupannya cukup luas, dari bayi hingga lansia.

Perhatikan poin kedua: bayi usia 6 bulan sudah masuk dalam rekomendasi jika memiliki kondisi medis tertentu. Ini menegaskan bahwa vaksin COVID-19 tidak hanya untuk orang dewasa sehat, tapi juga untuk si kecil yang punya faktor risiko.

Mengapa COVID-19 Tetap Perlu Diwaspadai?

Meski kasus harian sudah jauh menurun dibanding puncak pandemi, virus SARS-CoV-2 belum hilang. MOH menyebut COVID-19 masih beredar dan dapat menyebabkan penyakit berat, terutama pada kelompok lanjut usia serta orang yang rentan secara medis.

Singapura memilih memasukkan vaksin ini ke jadwal rutin karena perlindungan berkelanjutan dinilai lebih efektif dibanding respons darurat. Pendekatan ini mirip dengan cara vaksin influenza dikelola di banyak negara, di mana kelompok berisiko mendapat dosis berkala.

Apa Artinya untuk Ibu di Indonesia?

Kebijakan Singapura ini bisa menjadi cerminan arah kebijakan kesehatan di kawasan ASEAN. Jika negara tetangga mulai memperlakukan vaksin COVID-19 sebagai imunisasi rutin, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengikuti langkah serupa dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk saat ini, ibu bisa mulai mencatat riwayat vaksin COVID-19 anak dan anggota keluarga. Jika anak punya kondisi medis khusus, seperti asma, penyakit jantung bawaan, atau imunodefisiensi, diskusikan dengan dokter anak apakah vaksin COVID-19 masih perlu dilanjutkan atau diulang.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?

Setiap anak punya kondisi berbeda. Konsultasi ke dokter anak tetap jadi langkah paling aman sebelum mengambil keputusan vaksinasi, terutama jika si kecil sedang sakit, baru sembuh dari infeksi, atau memiliki riwayat reaksi alergi terhadap vaksin sebelumnya.

Untuk ibu hamil dan menyusui, tanyakan juga ke dokter kandungan atau dokter anak mengenai waktu yang tepat. Jangan mengandalkan informasi dari media sosial tanpa verifikasi ke tenaga kesehatan.

Kebijakan Singapura menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 kini dipandang sebagai bagian dari perlindungan jangka panjang, bukan lagi sekadar respons pandemi. Buat ibu, yang terpenting adalah terus memantau informasi resmi dari Kementerian Kesehatan dan menjaga komunikasi dengan dokter anak.