LINKARFAKTA.COM — Harga minyak mentah Brent berjangka naik US$ 1,14 atau 1,11% menjadi US$ 103,73 per barel pada perdagangan Rabu (30/9/2026), setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa dirinya bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran. Kenaikan terjadi di tengah ekspor minyak Timur Tengah yang mulai pulih ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran meletus akhir Februari. Pasar energi global kembali bergejolak menyusul saling bantah antara Washington dan Teheran soal peluang kesepakatan nuklir.
Brent berada di jalur kenaikan bulanan sekitar 14%, yang akan menjadi kenaikan terbesar sejak Juli. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 34 sen atau 0,38% menjadi US$ 89,72 per barel, setelah sempat menembus US$ 106 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Lonjakan harga dipicu bantahan Trump atas laporan Axios yang mengutip pejabat AS. Laporan itu menyebut Trump bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan, sebagai imbalan atas langkah "konkret" dari Teheran terkait program nuklirnya.
"Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump di Truth Social.
Diplomasi Qatar dan Bantahan Trump
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, sebelumnya menyatakan harapan agar diplomasi ulang-alik antara Iran dan AS menghasilkan terobosan. Qatar berperan sebagai perantara komunikasi kedua negara.
"Kami saling bertukar pesan antara kedua pihak, dan kami berupaya untuk membangun titik temu agar dapat mencapai kesepakatan yang akan menyelamatkan kita semua dari dampak buruk konflik ini," kata al-Ansari.
Harapan itu pupus setelah Trump angkat bicara. Bantahan tersebut memupus spekulasi pasar bahwa sanksi Iran akan segera dilonggarkan, yang sempat menekan harga minyak dalam beberapa sesi sebelumnya.
Ekspor Timur Tengah Pulih, Arab Saudi Lanjutkan Pemuatan Tanker
Di sisi pasokan, Arab Saudi melanjutkan pemuatan kapal tanker minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah itu diambil setelah operasi Pipa Timur-Barat kembali berjalan.
Ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah pulih pada September menjadi 16,328 juta barel per hari. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.
Pemulihan pasokan seharusnya menekan harga. Namun, ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar energi.
Stok Minyak AS Naik, Distilat Menurun
Dari sisi permintaan, persediaan minyak mentah dan bensin AS meningkat, sementara stok distilat menurun pekan lalu. Data itu mengacu pada American Petroleum Institute (API) yang dikutip sumber pasar.
Stok minyak mentah AS naik 1,02 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Kenaikan stok biasanya menjadi sinyal pelemahan permintaan, tetapi pasar masih lebih fokus pada risiko geopolitik Timur Tengah.
Apa Artinya bagi Pasar Energi Indonesia
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel menjadi tekanan ganda. Di satu sisi, penerimaan negara dari sektor migas berpotensi naik. Di sisi lain, beban subsidi energi dan biaya impor bahan bakar minyak ikut membengkak.
Pergerakan harga minyak juga akan memengaruhi nilai tukar rupiah dan inflasi domestik dalam beberapa bulan ke depan. Investor energi dan pelaku pasar komoditas perlu mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, karena arah sanksi menjadi kunci arah harga minyak selanjutnya.