LINKARFAKTA.COM — True Brit Entertainment resmi mengajukan proses administrasi di Inggris, sebuah langkah hukum setara pailit yang menandai tumbangnya distributor film yang baru berdiri kurang dari tiga tahun. Perusahaan bentukan mantan CEO Lionsgate U.K. & Europe, Zygi Kamasa, itu gagal mengangkat box office lokal meski merilis sejumlah judul yang dipuji kritikus. Kamasa menyebut keputusan ini diambil di tengah kondisi pasar yang sangat menantang.

Langkah administrasi sendiri merupakan proses hukum di Inggris yang mirip dengan pailit, di mana perusahaan berada di bawah pengawasan pihak independen untuk menilai opsi penyelamatan aset.

Siapa Zygi Kamasa dan Apa Isi Pernyataannya

Kamasa menyampaikan pernyataan resmi kepada Variety terkait keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil setelah perusahaan menimbang berbagai kemungkinan di tengah tekanan pasar.

"In extremely challenging market conditions, the company has taken the difficult decision to enter administration," kata Kamasa. "An independent specialist has now been appointed to oversee the company and assess the options available, with the aim of achieving the best possible outcome for the company and its creditors."

Dengan penunjukan spesialis independen itu, seluruh opsi yang tersedia akan dikaji demi hasil terbaik bagi perusahaan dan para krediturnya.

Deretan Rilisan yang Gagal Mengangkat Box Office

True Brit pertama kali diumumkan pada November 2023 dengan fokus eksklusif pada film-film Inggris untuk rilis bioskop. Perusahaan menargetkan investasi dan perilisan 4-8 judul per tahun, serta ikut membiayai produksi senilai lebih dari 50 juta dolar AS setiap tahunnya.

Modal awal datang lewat pendanaan yang dipimpin Three Six Zero, perusahaan manajemen bakat yang menaungi nama-nama seperti Calvin Harris, Frank Ocean, dan FKA Twigs. Marv, rumah produksi milik Matthew Vaughn, turut menyuntik investasi minoritas.

Rilisan perdana mereka adalah "The Critic" yang dibintangi Ian McKellen dan Gemma Arterton, diakuisisi dari Toronto pada 2023 dan tayang di bioskop Inggris setahun berikutnya. Setelah itu menyusul komedi Danny Dyer, "Marching Powder", yang mencatat hasil positif dengan pendapatan lebih dari 4 juta dolar AS di Inggris dan Irlandia.

Namun sejumlah judul berikutnya justru kesulitan. Komedi musikal Gurinder Chadha berjudul "Christmas Karma" dan drama tinju "Giant", keduanya diproduksi bersama True Brit, tidak berhasil menarik penonton. Hal serupa dialami "The Death of Robin Hood" yang dibintangi Hugh Jackman, dengan pendapatan di bawah 800.000 dolar AS.

Rilisan terbaru, komedi coming-of-age "Sunny Dancer" yang dibintangi Bella Ramsey, juga tak mampu mendongkrak penjualan tiket. Padahal promosinya gencar dan film ini sempat mendapat sorotan setelah pemutaran perdana dunianya di Berlin.

Nasib Judul yang Belum Dirilis

True Brit masih menyimpan sejumlah judul dalam antrean. Salah satunya biopik tinju garapan Anthony Wonke, "In the Shadows", yang dijadwalkan menggelar pemutaran perdana dunia di BFI London Film Festival bulan ini.

Ada pula "Victorian Psycho", komedi horor psikologis yang dibintangi Maika Monroe dan sudah tayang perdana di Cannes. Belum diketahui bagaimana kelanjutan nasib kedua rilisan tersebut setelah perusahaan masuk proses administrasi.

Kabar True Brit masuk administrasi pertama kali dilaporkan Deadline, publikasi saudara Variety.

Kasus True Brit menambah panjang daftar distributor independen di Inggris yang terhimpit, sekaligus menggambarkan betapa berat medan distribusi film non-franchise di pasar sana saat ini.