LINKARFAKTA.COM — Perjalanan Cheng Ho ke Semarang dan ledakan transaksi QRIS ternyata punya benang merah yang jarang disadari. Keduanya bicara soal koneksi lintas wilayah, inklusi, dan kepercayaan. Berikut empat alasan kenapa kisah pelaut abad ke-15 itu masih relevan buat memahami dompet digital kita hari ini.

1. Sama-sama Menghubungkan Wilayah yang Jauh

Cheng Ho berlayar melintasi puluhan wilayah dengan latar budaya berbeda, membuka jalur dagang dan komunikasi yang sebelumnya terputus. Dompet digital kini menjalankan peran serupa lewat QRIS Antarnegara. Inovasi ini bahkan meraih penghargaan 50-in5 Awards 2026 di kancah internasional karena dinilai inklusif dan interoperable.

2. Bukti Nyata di Jawa Tengah

Kalau Cheng Ho dulu meninggalkan jejak di Semarang, jejak dompet digital terlihat dari angka transaksi. Hingga Juli 2026, QRIS Jawa Tengah menembus 870,01 juta transaksi dengan nilai putaran uang Rp73,45 triliun. Angka itu menunjukkan adopsi pembayaran digital tidak lagi terpusat di kota besar.

3. Budaya dan Teknologi Bisa Berjalan Bersama

Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menggelar edukasi pembayaran QRIS dalam acara Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 bertema Two Shores, One Story, One Connection. Acara itu berlangsung di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). Lokasi ini dipilih karena punya kaitan sejarah langsung dengan perjalanan Cheng Ho.

4. Digitalisasi Sampai ke Kas Daerah

Pemerataan digitalisasi tidak berhenti di pedagang ritel. Sektor pemerintahan ikut didorong lewat apresiasi Transaksi Non Tunai (TNT) Awards. Tujuannya menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat pembayaran yang lebih rapi dan terukur.

Sejarah, kekayaan budaya, dan kecanggihan teknologi bukan hal yang saling bertolak belakang. Ketiganya bisa dirajut jadi solusi cerdas untuk memajukan ekonomi hari ini.