LINKARFAKTA.COM — Harga emas spot ditutup di US$4.286,25 per troy ounce pada perdagangan Jumat, naik tipis 0,19% dalam sehari tetapi ambles 2,07% sepanjang pekan. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan sinyal kebijakan agresif Federal Reserve menggerus daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Posisi itu menandai pekan penurunan keempat dalam lima pekan terakhir bagi emas.

Pelemahan emas sepekan ini dipicu tiga faktor yang saling menguatkan: kekhawatiran inflasi yang tinggi, sinyal kebijakan moneter ketat dari para pembuat kebijakan Federal Reserve, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus naik. Ketiganya mengurangi daya tarik emas batangan sebagai aset investasi.

Kepala analis pasar di Bybit, Han Tan, menyebut tekanan datang dari pasar obligasi. "Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang tak henti-hentinya telah membuat harga emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima minggu terakhir," kata Tan, dikutip dari Reuters.

Imbal Hasil Obligasi Naik, Biaya Peluang Emas Ikut Terangkat

Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi menaikkan biaya peluang memegang emas batangan. Sebab, emas tidak memberikan imbal hasil alias yield seperti obligasi. Investor pun cenderung memindahkan dana ke aset yang menghasilkan pendapatan tetap.

Tan menambahkan, logam mulia ini berjuang melawan berbagai hambatan sekaligus. "Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini telah berjuang melawan berbagai macam hambatan, termasuk risiko inflasi yang terus meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah yang tak terkendali, dan kebijakan The Fed yang agresif," ujarnya.

The Fed Kerek Suku Bunga, Peluang Kenaikan Berikutnya Capai 93%

Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pekan lalu. Ini menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun dan disertai isyarat kenaikan lanjutan di masa mendatang.

Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 64%. Adapun peluang kenaikan pada Desember mencapai 93%, menurut FedWatch Tool dari CME.

Sejak dimulainya perang AS-Israel di Iran, kenaikan harga energi terus memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi itu memaksa bank sentral mengadopsi kerangka kebijakan lebih ketat demi menjaga tekanan harga tetap terkendali.

Harga Emas Turun 19% dari Puncak 27 Februari

Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai inflasi dan investasi aman saat ketidakpastian geopolitik. Namun, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tariknya karena investor beralih ke aset yang menghasilkan imbal hasil.

Harga emas batangan telah turun sekitar 19% dari level tertingginya pada sesi perdagangan 27 Februari. Koreksi tajam ini mencerminkan pergeseran preferensi investor dari aset safe haven ke instrumen berbunga.

Negosiasi Selat Hormuz Redakan Kekhawatiran Pasokan Minyak

Di sisi lain, para negosiator di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk mengakhiri perang. Skema itu akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, menurut beberapa sumber.

Harga minyak turun lebih dari 1% karena sebagian kekhawatiran tentang pasokan mereda. Pergerakan ini turut memengaruhi sentimen pasar komoditas secara keseluruhan, termasuk emas.

Apa Artinya bagi Investor Emas

Tekanan dari sisi suku bunga dan imbal hasil obligasi masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan. Selama The Fed mempertahankan stance agresifnya, ruang pemulihan emas cenderung terbatas.

Investor perlu mencermati data inflasi dan sinyal kebijakan The Fed berikutnya. Keduanya akan menjadi penentu apakah emas mampu keluar dari tren penurunan mingguan yang sudah berlangsung empat kali dalam lima pekan terakhir.