LINKARFAKTA.COM — Sebanyak 40.363 balita tercatat terinfeksi ISPA akibat kabut asap karhutla di 7 provinsi sepanjang Agustus-September 2026. Sistem pernapasan bayi yang belum sempurna membuat mereka berisiko lebih tinggi mengalami pneumonia hingga asma. Kenali tanda bahaya dan langkah perlindungan yang bisa ibu lakukan di rumah.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 174.694 kasus ISPA akibat karhutla terjadi di 63 kabupaten/kota pada 7 provinsi terdampak. Provinsi-provinsi itu adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Angka ini meningkat dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Dari total kasus tersebut, 40.363 pasien adalah balita usia 0-5 tahun. Kelompok usia ini memang paling rentan karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih berkembang.
Mengapa Bayi Lebih Rentan Terpapar Kabut Asap
Anggota Komisi IX DPR, Irma Suryani Chaniago, menjelaskan bahwa paparan kabut asap yang berlangsung berhari-hari bisa memperberat kondisi anak. Bukan hanya ISPA, tapi juga pneumonia, asma, hingga penyakit bawaan yang sudah ada sebelumnya.
"Bayi dan balita menghadapi risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih berkembang. Paparan yang berlangsung berhari-hari juga dapat memperberat pneumonia, asma, serta penyakit bawaan," kata Irma melalui keterangan tertulis, Rabu, 23 September 2026.
Partikel halus dalam kabut asap masuk lebih dalam ke saluran pernapasan anak. Ukuran saluran napas bayi yang masih kecil membuat iritasi lebih cepat terjadi. Mata juga rentan mengalami iritasi akibat paparan asap.
Tanda Bahaya yang Perlu Ibu Waspadai
ISPA pada bayi sering dimulai dengan gejala ringan yang bisa memburuk cepat. Perhatikan jika anak batuk terus-menerus, napas berbunyi, atau terlihat sesak. Bayi yang sulit menyusu, lemas, atau demam tinggi perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Irma juga mengingatkan risiko jangka panjang dari paparan kabut asap. Bukan hanya ISPA dan iritasi mata, partikel asap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke di kemudian hari.
"Kandungan partikel pada kabut asap Karhutla sangat membahayakan kesehatan. Khususnya bagi balita dan warga dari kelompok rentan," ungkap Irma.
Langkah Perlindungan untuk Bayi dan Balita
Selama kualitas udara buruk, batasi aktivitas anak di luar ruangan. Tutup jendela dan pintu rumah, gunakan air purifier jika tersedia. Jika harus keluar, pastikan bayi memakai masker yang sesuai ukuran.
Bayi dengan kondisi asma, pneumonia, atau penyakit jantung bawaan memerlukan perhatian ekstra. Puskesmas, posyandu, dan rumah sakit diminta aktif mendata kelompok rentan ini untuk pemantauan berkala dan rujukan cepat.
"Puskesmas, posyandu, dan rumah sakit harus secara aktif mendata bayi, balita, ibu hamil, anak dengan asma, pneumonia, penyakit jantung, serta kelompok berisiko lain untuk memperoleh pemantauan berkala, pemeriksaan dini, dan rujukan tanpa menunggu kondisi gawat," ucap Irma.
Kapan Harus ke Dokter
Jangan tunggu kondisi memburuk. Segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit jika napasnya cepat dan dangkal, terlihat tarikan di dada, atau bibir membiru. Bayi yang tidak mau menyusu dan tampak sangat lemas juga butuh penanganan medis segera.
Irma mendorong penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk wilayah terdampak karhutla. Menurutnya, jangkauan karhutla semakin luas dan korban ISPA terus bertambah, sehingga intervensi kesehatan khusus anak harus segera dilakukan.
Pemetaan harian logistik medis juga dinilai penting. Ketersediaan dokter, ruang perawatan, oksigen, nebulizer, obat-obatan, hingga ambulans perlu dipastikan agar daerah terdampak bisa disokong cepat oleh daerah penyangga.
Untuk ibu di wilayah terdampak, pantau kualitas udara harian dan kenali tanda bahaya pada anak. Perlindungan terbaik dimulai dari rumah, dengan mengurangi paparan dan segera mencari bantuan medis saat gejala memburuk.