LINKARFAKTA.COM — PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penjualan batu bara turun 22 persen menjadi 6.723 ton sepanjang Januari-Agustus 2026 akibat persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang belum sepenuhnya diperoleh. Perseroan baru mengantongi restu RKAB sekitar 50 persen dari total kapasitas produksi 15 juta ton. Kondisi ini turut menekan penjualan alat berat Komatsu yang anjlok 21 persen pada periode yang sama.

Paragraf pembuka: Direktur United Tractors, Vilihati Surya, mengungkapkan bahwa kapasitas produksi batu bara perseroan sebenarnya mencapai 15 juta ton. Namun hingga pertengahan tahun, pemerintah baru menyetujui RKAB sebesar 7,4 juta ton — hanya separuh dari yang dibutuhkan. Keterbatasan ini memukul dua lini bisnis sekaligus: penjualan batu bara dan alat berat.

RKAB Baru Naik ke 12,4 Juta Ton di Agustus

Vilihati menyampaikan bahwa persetujuan RKAB mulai bertambah pada Agustus 2026. Pemerintah menaikkan kuota produksi batu bara UNTR menjadi 12,4 juta ton.

"Di Agustus ini kita sudah mendapatkan kenaikan RKAB ke 12,4 juta," jelasnya dalam acara Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Meski begitu, tambahan kuota tersebut belum sepenuhnya menutup selisih dari kapasitas maksimal yang dimiliki perseroan. Vilihati menuturkan, pada paruh pertama tahun ini RKAB yang turun memang hanya separuh.

"Kalau kita lihat memang sampai dengan first half kita RKAB-nya turun 50 persen, kita itu sebenarnya punya kapasitas bisa produksi sampai dengan 15 juta ton. Tapi pada pertengahan Juni kemarin, yang baru di-approve RKAB-nya itu baru 7,4 juta," ungkapnya.

Penjualan Alat Berat Komatsu Ikut Terdampak

Efek RKAB tidak berhenti di batu bara. Sepanjang delapan bulan 2026, penjualan alat berat Komatsu milik UNTR turun 21 persen menjadi 2.689 unit, dari 3.408 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan paling dalam terjadi pada segmen big machine yang menjadi kontributor utama penjualan alat berat. Penjualan segmen ini merosot menjadi 436 unit dari sebelumnya 860 unit.

Vilihati menjelaskan, pelanggan di sektor pertambangan batu bara menahan pembelian alat berat karena ketidakpastian kuota produksi.

"Unfortunately di tahun ini memang karena impact dari RKAB, mungkin teman-teman semua tahu ya, impact dari RKAB, in directly customer-customer-nya di big machine sales, yang terutama di coal mining itu ngerem dulu untuk pembeliannya alat berat," jelasnya.

El Nino dan Musim Kering di Kalimantan Tengah

Hambatan produksi UNTR bertambah karena wilayah kerja perseroan di Kalimantan Tengah dilanda El Nino dan musim kering. Kondisi cuaca ini mengganggu aktivitas penambangan.

Vilihati memperkirakan penjualan batu bara baru mencapai titik optimal pada kuartal IV 2026, tepatnya November-Desember.

"Tantangannya ini sekarang itu lagi El Nino, lagi dry season di area Kalimantan Tengah. Jadi kita produksi dan nanti kita jualannya mungkin di Q4 November-Desember, lebih maximize," pungkasnya.

Penutup: Bagi UNTR, pemulihan kinerja sepanjang sisa tahun bergantung pada dua hal: percepatan persetujuan RKAB dan membaiknya cuaca di area tambang. Tanpa keduanya, target penjualan batu bara maupun alat berat berpotensi kembali meleset.