LINKARFAKTA.COM — Abdul Mu'ti meminta sekolah menerapkan model pembelajaran asinkron bagi murid kelas XII yang sedang menjalani magang industri. Langkah ini diambil untuk menutup kesenjangan kompetensi dasar yang terungkap dalam data resmi Kemendikdasmen.

Data TKA Ungkap Kelemahan Literasi dan Numerasi

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, capaian akademik murid SMK masih jauh dari ideal. Selain Matematika dan Bahasa Inggris, nilai Bahasa Indonesia tercatat 53,68.

Mu'ti menilai angka tersebut menjadi bukti nyata perlunya penguatan kemampuan fundamental selama masa PKL berlangsung. Ia menekankan bahwa literasi dan numerasi bukan sekadar syarat kelulusan mata pelajaran.

"Literasi dan numerasi merupakan kemampuan fundamental. Keduanya diperlukan bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja," ucap Mu'ti dalam keterangannya, Senin (14/9).

Konteks Penggunaan Keterampilan Dasar di Dunia Industri

Pemerintah ingin mengubah persepsi bahwa PKL hanya fokus pada keterampilan teknis alat atau mesin. Mu'ti merinci bagaimana kemampuan membaca dan menghitung justru vital dalam operasional pabrik atau kantor.

Tanpa fondasi ini, lulusan SMK berisiko kesulitan berpikir kritis dan memecahkan masalah kompleks di tempat kerja. Pengalaman lapangan harus berjalan beriringan dengan penguatan nalar.

Fleksibilitas Jadwal Jadi Kunci Implementasi

Mu'ti mengakui tantangan utama adalah variasi kondisi murid di lokasi PKL. Perbedaan jadwal shift, akses internet terbatas, dan ketersediaan perangkat menuntut pendekatan yang adaptif.

Pembelajaran asinkron dipilih sebagai solusi. Murid dapat mengakses materi secara mandiri tanpa harus hadir sinkron dengan guru. Guru berperan menyediakan video, modul ringkas, lembar kerja, kuis, dan tugas refleksi.

"Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran," kata dia.

Peran Guru Tetap Sentral dalam Pemantauan

Fleksibilitas waktu bukan berarti lepas pengawasan. Mu'ti menegaskan guru tetap memegang kendali penuh atas tujuan pembelajaran dan kualitas umpan balik.

Guru wajib memantau perkembangan murid, memberikan instruksi jelas, dan mengevaluasi tugas yang dikirimkan secara daring. Hal ini memastikan standar kompetensi tetap terjaga meski murid tersebar di berbagai industri.

Kebijakan ini diharapkan membentuk lulusan SMK yang memiliki dua kekuatan sekaligus: keterampilan teknis siap pakai dan kemampuan bernalar yang kuat untuk melanjutkan pendidikan maupun bertahan di pasar kerja.