JAKARTA, LINKARFAKTA.COM — Rupiah dibuka menguat tipis 0,02% atau 4 poin ke level Rp17.607 per dolar AS pada Senin (14/9/2026) pukul 09.05 WIB, sebelum berbalik melemah 0,22% atau 38 poin ke Rp17.649 pada pukul 10.57 WIB. Pembalikan arah terjadi saat indeks dolar AS terus menguat 0,21% ke posisi 99,33, dipicu ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang mengganggu distribusi minyak mentah dunia. Harga minyak Brent per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel, melonjak dari US$71,80 per barel pada Juli 2026.

Pergerakan rupiah hari ini berlangsung dalam dua arah. Membuka perdagangan di Rp17.607 per dolar AS, mata uang Indonesia itu tak bertahan lama di zona hijau.

Pada pukul 10.57 WIB, rupiah sudah berada di Rp17.649 per dolar AS. Pelemahan 38 poin itu berbarengan dengan indeks dolar AS yang naik ke 99,33.

Posisi ini melanjutkan tren Jumat (11/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,36% ke Rp17.611 per dolar AS.

Mengapa Brent di Atas US$100 Menekan Rupiah

Pemicu utama tekanan terhadap rupiah bukan datang dari dalam negeri. Ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang memasuki bulan ketujuh disebut sebagai salah satu pertempuran terparah beberapa bulan terakhir.

Konflik itu mengganggu distribusi minyak mentah dunia. Dampaknya langsung terasa di harga minyak mentah Brent, yang per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel.

Angka itu melonjak signifikan dari US$71,80 per barel pada Juli 2026. Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 2026 meningkatkan risiko defisit fiskal karena beban subsidi BBM.

Posisi Indonesia sebagai importir neto minyak membuat kenaikan harga Brent langsung menekan neraca perdagangan dan nilai tukar.

Ringgit hingga Peso Ikut Tertekan, Won Korea Justru Menguat

Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia lain bergerak senada pada perdagangan sebelumnya.

Ringgit Malaysia turun 0,09%, rupee India turun 0,28%, dan peso Filipina turun 0,26%.

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia justru menguat. Won Korea naik 0,38%, dolar Singapura naik 0,02%, yuan China menguat 0,03%, baht Thailand naik 0,09%, dan yen Jepang menguat 0,10%.

Pergerakan yang tidak seragam ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih ditentukan oleh faktor eksternal ketimbang fundamental domestik semata.

Proyeksi Analis: Rupiah Bergerak di Rentang Rp17.610-Rp17.650

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp17.610-Rp17.650 hari ini.

Untuk sepekan ke depan, ia memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.500-Rp17.850.

Proyeksi itu bersifat tambahan. Fakta utama tetap pergerakan riil hari ini: dibuka di Rp17.607, lalu melemah ke Rp17.649 dalam waktu kurang dari dua jam.

Yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah indeks dolar AS bertahan di atas 99 atau kembali terkoreksi. Selama Brent bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum mereda.

Data Kurs Rupiah/USD, Senin 14 September 2026

WaktuKursIndeks Dolar AS
09.05 WIBRp17.607 (menguat 0,02% / 4 poin)99,19
10.57 WIBRp17.649 (melemah 0,22% / 38 poin)99,33

Mata Uang Asia Lain (Jumat, 11 September 2026)

Mata UangPergerakan
Ringgit Malaysia−0,09%
Rupee India−0,28%
Peso Filipina−0,26%
Won Korea+0,38%
Dolar Singapura+0,02%
Yuan China+0,03%
Baht Thailand+0,09%
Yen Jepang+0,10%

Harga minyak mentah Brent per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel, melonjak dari US$71,80 per barel pada Juli 2026, dipicu ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang memasuki bulan ketujuh.

Analis PT Traze Andalan Futures memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp17.610–Rp17.650 hari ini dan Rp17.500–Rp17.850 dalam sepekan ke depan. Data pergerakan pasar bersifat dinamis dan dapat berubah.