LINKARFAKTA.COM — Gili Trawangan, pulau kecil di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menghadapi tekanan langsung pada sektor akomodasi. Sepuluh hotel memutuskan setop operasi karena tidak lagi sanggup menanggung biaya pembelian air tangki maupun air dari sumur warga.
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, menyebut kondisi ini sudah berlangsung sepekan. Ia memperkirakan jumlah akomodasi yang tutup sementara akan bertambah hingga akhir pekan.
Hotel Tutup karena Biaya Air Membengkak
Menurut Kusnawan, hitungan operasional hotel tidak lagi masuk ketika pasokan air dari PT TCN yang bekerja sama dengan PDAM Amerta Dayan Gunung terhenti. Setiap hotel harus membeli air secara mandiri dengan harga yang jauh lebih tinggi.
"Ada 10 hotel tidak sanggup operasi karena hitung-hitungannya tidak masuk. Bayangkan 1 hotel ada 20 karyawan saja sudah 200 orang (terdampak), ini asumsi, saya yakin lebih dari itu," kata Kusnawan.
Ia menghitung kebutuhan air untuk 20 kamar tanpa kolam renang mencapai 15 kubik per hari, hanya untuk mandi dan mencuci tamu. Di Gili Trawangan sendiri terdapat sekitar 530 akomodasi.
Ratusan Wisatawan Batalkan Kunjungan
Dampak krisis air tidak berhenti di level operasional hotel. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan ratusan wisatawan membatalkan kunjungan ke Gili Trawangan.
"Ada ratusan ya. Informasi yang saya dapatkan," ujar Sahlan.
Ia menilai penyelesaian persoalan ini sebenarnya sederhana, namun suara dari pihak-pihak terkait belum sepenuhnya tersalurkan sehingga krisis air terus berlanjut.
Regulasi Tumpang Tindih di Kawasan Konservasi
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, menjelaskan bahwa persoalan ini dipicu kerumitan regulasi lintas kementerian. PT TCN masih ragu mengalirkan air kembali karena khawatir terjerat masalah legalitas.
"Ini kan kita masih menunggu kebijakan dari pusat. Hari ini Pak Kapolda juga hadir di lokasi, di Gili Trawangan, meyakinkan bahwa silakan PT TCN untuk beroperasi," kata Aulia.
Pemkab, Pemprov NTB, bersama Forkopimda (Kepolisian dan Kejaksaan) telah membentuk tim terpadu untuk mengawal proses diskresi izin jangka pendek. Pemkab sudah mengeluarkan diskresi agar TCN segera membuka keran, sementara Pemprov memberikan dukungan rekomendasi.
Persoalan ini juga telah dibawa ke tingkat kementerian karena mencakup berbagai sektor perizinan di wilayah konservasi. Aulia menyebut sudah ada pertemuan di Kemenko Infra bersama Kemenpar, KLH, dan Kehutanan.
Kapan Air Kembali Mengalir?
Aulia memastikan pasokan air akan kembali mengalir dalam waktu dekat. "Saya dapat info satu hingga dua hari ini air akan kembali mengalir, Pak Gubernur sedang melobi ke pemerintah pusat," ujarnya.
Soal desakan memutus kontrak PT TCN dan mengganti investor baru, Aulia menilai hal itu butuh proses panjang. Kebutuhan air tidak bisa menunggu proses tersebut.
"Kalau cari investor lain kan butuh waktu. Syarat kita untuk menghadirkan layanan infrastrukturnya harus ada air itu kebutuhan utama, kebutuhan dasar," kata Aulia.
Bagi wisatawan yang sudah memiliki rencana menginap di Gili Trawangan dalam waktu dekat, disarankan mengonfirmasi langsung ketersediaan air dan status operasional hotel masing-masing. Informasi terkini juga dapat dikonfirmasi melalui Dinas Pariwisata Lombok Utara atau BPPD NTB.