Gempa Nepal Picu Longsor Tewaskan 1.056 Orang, China Kirim Bantuan Gelombang Kedua ke Kathmandu
BEIJING — Operasi pencarian dan penyelamatan korban bencana tanah longsor di Nepal utara masih terus berlangsung. Hingga Selasa (1/9), kepolisian Nepal mencatat 4.247 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 590 warga asing yang berasal dari 39 negara. Sementara itu, lebih dari 10.000 orang berhasil diselamatkan pascabencana tersebut.
Di tengah upaya evakuasi yang berjalan intensif, China mengirimkan pasokan bantuan kemanusiaan gelombang kedua. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan pengiriman dijadwalkan berangkat pada hari ini dari Beijing.
Bantuan yang Dikirim: Drone hingga Peralatan Uji DNA
Pasokan bantuan tahap kedua ini mencakup barang-barang yang sangat dibutuhkan tim penyelamat di lapangan. "Pasokan ini mencakup drone, peralatan dan reagen untuk pengujian DNA, serta peralatan untuk pemurnian air dan penerangan," kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (1/9).
Sebelumnya, China telah menyalurkan bantuan tunai darurat serta bantuan kemanusiaan gelombang pertama sebanyak 50 ton yang sudah tiba di ibu kota Nepal, Kathmandu. Selain mengirimkan bantuan logistik, para ahli pengujian DNA asal China juga segera berangkat ke daerah-daerah terdampak untuk membantu proses identifikasi korban.
Jalan Putus dan Ancaman Bencana Sekunder
Guo Jiakun mengakui kondisi di lokasi bencana masih sangat sulit. Jalan dan jalur komunikasi terputus di sejumlah wilayah yang terkena longsor. "Ada risiko keselamatan besar akibat bencana sekunder," ungkapnya.
Meski begitu, ia menyebut China telah mengerahkan lebih dari 2.100 personel untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Ratusan kendaraan serta ribuan peralatan penyelamatan dikerahkan untuk mempercepat evakuasi korban.
China juga menjaga komunikasi erat dengan kedutaan asing di negaranya untuk mengidentifikasi warga negara asing yang hilang serta menangani masalah tindak lanjut secara tepat.
Kerja Sama Data Cuaca untuk Cegah Korban Tambahan
Dalam penanganan bencana ini, China terus berbagi informasi meteorologi dan hidrologi dengan Nepal. "Kami melakukan konsultasi profesional dan mengirimkan peringatan dini yang relevan," kata Guo Jiakun.
Pemerintah Nepal, melalui Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana, menyatakan bencana ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah negara tersebut. Operasi penyelamatan dan bantuan intensif masih berlangsung hingga saat ini, dengan bantuan internasional yang terus mengalir ke Kathmandu.