TBS Bukukan Laba Kotor USD28,2 Juta, Bisnis Limbah dan EV Tumbuh 2 Kali Lipat

Direktur dan CFO TBS, Juli Oktarina, memaparkan capaian kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama 2026 dalam keterangan resmi.
Penulis: Farah
Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:01:31 WIB

LINKARFAKTA.COM — Transformasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dari perusahaan tambang batu bara menjadi pengelola infrastruktur berkelanjutan mulai menunjukkan hasil nyata. Pada paruh pertama 2026, kontribusi bisnis non-batu bara mencapai 66,5 persen dari total pendapatan konsolidasi, lebih dari dua kali lipat dibanding segmen batu bara yang hanya 31,4 persen.

Direktur dan Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina, menegaskan bahwa pergeseran portofolio ini bukan sekadar wacana.

"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).

Segmen Limbah Jadi Mesin Kas Baru

Motor utama pertumbuhan TBS adalah segmen pengelolaan limbah. Segmen ini membukukan pendapatan USD105,9 juta, tumbuh 77,8 persen secara tahunan. Laba kotornya naik 91,9 persen menjadi USD17,6 juta, sementara EBITDA-nya melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi USD23,6 juta.

Dengan capaian tersebut, bisnis limbah kini menyumbang 61,2 persen pendapatan konsolidasi dan 92 persen EBITDA perusahaan. Artinya, hampir seluruh profitabilitas TBS saat ini ditopang oleh lini usaha hijau, bukan lagi komoditas hitam.

Efisiensi Biaya dan Arus Kas yang Membaik

Kenaikan laba kotor juga ditopang oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar USD13,5 juta. Alhasil, margin kotor konsolidasi meningkat signifikan menjadi 16,3 persen, dibandingkan 8,1 persen pada semester I tahun lalu.

EBITDA konsolidasi tumbuh 23,7 persen. Yang lebih penting, arus kas operasi berbalik positif menjadi USD14,6 juta, setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat negatif USD31,6 juta. Perbaikan ini memberi ruang fiskal bagi TBS untuk membiayai ekspansi tanpa bergantung pada utang baru.

Pendapatan konsolidasi TBS sendiri relatif stabil di angka USD173 juta. Stabilitas ini dicapai meski perseroan telah sepenuhnya keluar dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara dan memangkas volume perdagangan batu bara hingga sekitar dua pertiga secara tahunan.

Strategi Menuju Infrastruktur Berkelanjutan

Langkah TBS keluar dari bisnis pembangkit batu bara dan mengurangi perdagangan komoditas merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun portofolio yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga energi. Fokus perusahaan kini tertuju pada dua sektor utama: pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik.

Dengan struktur pendapatan yang semakin didominasi bisnis non-batu bara, TBS optimistis dapat mencapai target transformasinya. Jika tren pada kuartal kedua berlanjut, perusahaan berpotensi mencatatkan kinerja tahunan yang jauh lebih sehat dibanding tahun-tahun sebelumnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemain infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.

Reporter: Farah