LINKARFAKTA.COM — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuding adanya mafia pangan yang mempermainkan harga ayam dan telur, sehingga konsumen membayar Rp 40.000–Rp 50.000 per kilogram sementara peternak hanya menerima Rp 20.000. Tudingan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Kondisi ini dinilai merugikan dua pihak sekaligus: produsen yang merugi dan konsumen yang tetap membayar mahal.

Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap kejanggalan pada rantai pasok ayam dan telur nasional. Harga di tingkat konsumen melonjak hingga Rp 40.000–Rp 50.000, sementara peternak justru menjual ayam hanya sekitar Rp 20.000 per kilogram. Padahal, harga wajar di tingkat produsen semestinya berada di kisaran Rp 26.000.

Amran menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Ia menilai ada pihak yang sengaja mengambil keuntungan dari selisih harga yang lebar tersebut.

Peternak Demo, Konsumen Tetap Bayar Mahal

Amran menyoroti situasi yang disebutnya sebagai anomali. Di saat harga di tingkat konsumen tinggi, ribuan peternak justru menggelar demonstrasi di DPR karena harga jual di tingkat produsen anjlok.

"Ini anomali, Pak. Perlu kami sampaikan. Ini dulu, kalau ini dijadikan kambing hitam dulu, stok tidak ada. Kalau stok tidak ada, harga naik. Sekarang lebih anomali benar. Karena yang punya ayam, produsen ayam dan telur, itu demo kemarin, karena harga turun. Hancur," ujar Amran dalam rapat tersebut.

Menurut Amran, selisih harga antara produsen dan konsumen yang mencapai dua kali lipat menunjukkan ada persoalan serius pada rantai distribusi. Ia menuding perantara atau middleman sebagai salah satu penyebab utama ketimpangan harga.

"Itu harganya Rp 20 ribu, telur dengan ayam hari ini. Harusnya Rp 26 ribu. Tapi di ujung, Rp 40 ribu, Rp 50 ribu. Yang middleman ini harus dibereskan," tegasnya.

Surat ke Kapolri dan 100 Orang Ditangkap

Amran mengaku telah melayangkan surat kepada Kapolri untuk menindak pihak-pihak yang diduga mempermainkan harga pangan. Menurutnya, praktik itu tidak boleh dibiarkan karena merugikan produsen maupun konsumen sekaligus.

"Ini negeri kita kalau begini terus, nggak beres, Pak Mendagri. Ini harus, ini mafia ini nggak boleh dikasih ruang. Jadi yang demo adalah produsen, konsumen juga demo, dua-dua demo. Terus di mana kita? Inilah pemerintah. Maaf, Pak Mendagri, kami sudah menyurat ke Kapolri, surat. Ini harus ditindak," katanya.

Ia juga mengungkapkan sebanyak 100 orang telah ditangkap terkait praktik yang disebutnya sebagai permainan mafia pangan. Namun, jumlah itu dinilai belum membuat pelaku jera.

"Ini sudah ditangkap 100, tapi tidak nyerah. Yang mempermainkan ini adalah teman kita, orang besar. Kita terjepit, pada hari yang sama yang demo konsumen, yang demo produsen," ujarnya.

Perintah Presiden dan Harapan Penegakan Hukum

Amran menegaskan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan agar pihak-pihak yang mempermainkan harga pangan ditindak tegas. Ia berharap penegakan hukum dapat menghentikan praktik yang merugikan masyarakat luas tersebut.

Persoalan harga ayam dan telur menjadi ujian bagi pemerintah di tengah upaya menjaga inflasi pangan. Ketika peternak dan konsumen sama-sama turun ke jalan, tekanan bukan hanya soal angka di pasar, tetapi juga soal kepercayaan publik terhadap tata kelola pangan nasional.