LINKARFAKTA.COM — Kelangkaan beras premium di ritel modern disebut bukan tanda swasembada beras bermasalah, melainkan buntut penertiban produsen nakal. Badan Pangan Nasional memastikan stok nasional aman dengan cadangan di Pasar Induk Beras Cipinang mencapai 40 ribu-50 ribu ton per awal Oktober.

Ekonom Awalil Rizky menilai fenomena langkanya beras premium di ritel modern tidak mencerminkan persoalan swasembada. Menurutnya, kelangkaan terjadi karena produsen yang selama ini diduga curang tengah kalang kabut usai penindakan tegas pemerintah.

"Beras premium yang langka itu beda dengan soal swasembada, karena jika benar temuan pemerintah, bahwa beras premium yang selama ini dijual di pasar modern, itu sebetulnya bukan beras premium. Artinya beras premium dengan kualitas rendah, akibatnya mereka mendapat margin yang sangat besar, si produsen itu," tutur Awalil dikutip Selasa (6/10/2026).

Produsen Diduga Jual Beras Medium dengan Label Premium

Awalil menduga sejumlah pelaku usaha menjual beras medium atau medium plus dengan merek premium. Praktik itu membuat margin mereka membengkak. Ketika pemerintah menertibkan, pasokan ke ritel modern ikut tersendat karena produsen masih menyesuaikan diri.

"Nah ketika ditertibkan, mereka lalu kalang kabut, sehingga suplainya ke (ritel) modern juga terhambat. Mungkin lagi penyesuaian. Kalau dari sisi ini, (sudah) benar pemerintah," ujar Awalil.

Meski pasokan ritel modern terganggu, ia menegaskan penertiban tetap harus dijalankan. "Tetapi bisa karena pelaku-pelaku yang, mohon maaf, artinya selama ini terduga melakukan kecurangan. (Ini) karena yang dijual sebetulnya beras medium, ya beras medium plus lah, diberi merek beras premium. Jadi dia marginnya luar biasa itu, kalau ini memang harus ditertibkan," sambung dia.

Stok di Pasar Induk Cipinang Capai 40 Ribu-50 Ribu Ton

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Ito Hediarto memastikan stok beras nasional dalam kondisi baik. Proyeksi data stok di pasar non-ritel masih melimpah, berdasarkan peninjauan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta (2/10/2026).

"Tadi kita lihat sama-sama kan, beras cukup. Semuanya ada. Tidak ada masalah. Beras aman. Untuk yang non ritel, tidak ada masalah. Penuh," ungkap Ito.

Data PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) selaku pengelola PIBC menyebut stok beras sampai awal Oktober diestimasikan 40 ribu hingga 50 ribu ton. Arus pasokan masuk dan keluar berkisar 1,8 ribu sampai 2,5 ribu ton per hari.

Pemantauan Bapanas di PIBC menunjukkan harga beras premium di tingkat distributor atau grosir masih wajar. Harganya Rp 12.860 per kilogram (kg) sampai Rp 14.200 per kg untuk kemasan 48-50 kg. PIBC merupakan pasar grosir beras terbesar di Indonesia dan kerap jadi barometer harga beras nasional.

Produksi dan Luas Panen Padi Tetap Tumbuh di Tengah El Nino

Ketersediaan beras nasional terjaga meski Indonesia diterpa musim kemarau dan fenomena El Nino. Tren produksi beras dan luas panen padi masih bergerak progresif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru melaporkan angka tetap produksi beras Januari-Agustus tahun ini tumbuh 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi Januari-Agustus 2026 tercatat 25,29 juta ton, naik 0,02 juta ton dari 25,27 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja luas panen padi pada El Nino 2026 juga dilaporkan BPS tumbuh dibandingkan El Nino 2023 dan 2024. Luas panen padi Januari-November 2026 diperkirakan 10,56 juta hektare, jauh lebih tinggi daripada 2023 dan 2024 yang masing-masing 9,86 juta hektare dan 9,69 juta hektare.

Distribusi ke Ritel Modern Diawasi Ketat

Setelah memastikan stok aman di pasar tradisional, Bapanas mengawasi distribusi beras ke pasar ritel modern. Pemerintah akan mengawasi Distribution Center (DC) agar penyaluran pasokan beras lebih merata.

"Penyaluran distribusinya yang kita jaga ketat. Katakanlah, dari sepuluh ritel yang kurang cuma satu. Sembilan lainnya ada, karena penyalurannya sampai ke DC, kita kawal dari DC ke ritel-ritel. Kita menjaga DC-DC ini supaya menyalurkan secara rata. Bulog sudah kita minta salurkan beras ke ritel," kata Ito.

Penindakan tegas terhadap DC ritel modern akan diterapkan jika ditemukan anomali. Bapanas bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri akan memprosesnya.

"Ketika ada yang bermain, di situ ada Satgas Pangan. Ketika ritel itu harganya di atas (HET), itu pasti kita tegur, kita panggil. Sekarang yang paling penting, kita sama-sama kawal distribusi, karena pemerintah sudah sediakan beras, sudah distribusi, tinggal dari DC ke ritel," pungkas Ito Hediarto.