LINKARFAKTA.COM — Data National Transportation Safety Board Amerika Serikat menunjukkan mobil hybrid justru paling rentan terbakar dibanding bensin dan listrik murni. Dari 100 ribu unit masing-masing jenis, hybrid mencatat 3.474,5 kasus kebakaran, sementara mobil listrik cuma 25,1 kasus. Temuan ini disampaikan Periklindo dalam rapat dengar pendapat di DPR.
Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Prabowo Kartoleksono membeberkan data itu dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR. Angka yang dipakai bukan survei lokal, melainkan pendataan National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat terhadap 100 ribu unit kendaraan per kategori.
Jadi, dari tiga jenis mobil yang paling populer saat ini, bensin, hybrid, dan listrik murni, justru hybrid yang mencatat kasus kebakaran paling tinggi.
Rincian Data NTSB: Hybrid 3.474 Kasus, Listrik 25 Kasus
Prabowo memaparkan perbandingan langsung dari sampel 100 ribu unit per jenis kendaraan. Angkanya cukup kontras.
- Hybrid: 3.474,5 kasus kebakaran per 100 ribu unit
- Bensin (ICE): 1.529,9 kasus kebakaran per 100 ribu unit
- Listrik murni (EV): 25,1 kasus kebakaran per 100 ribu unit
"Untuk kendaraan hybrid dari 100 ribu itu ada 3.474,5 kasus kebakaran. 1.529,9 bensin kasus kebakaran. Mobil listrik, pure listrik 25,1," ujar Prabowo dalam rapat tersebut.
Artinya, mobil bensin hampir dua kali lebih rentan terbakar dibanding mobil listrik murni. Tapi keduanya masih jauh di bawah hybrid yang angkanya lebih dari dua kali lipat bensin.
Kenapa Hybrid Lebih Rawan: Dua Sumber Energi dalam Satu Mobil
Prabowo menjelaskan penyebabnya masuk akal secara teknis. Mobil hybrid mengusung dua sumber tenaga sekaligus, baterai bertegangan tinggi dan tangki bahan bakar bensin.
Kombinasi itu menciptakan dua jalur risiko yang bisa bertemu. Uap bensin yang bocor bisa bertemu dengan tegangan listrik tinggi, dan percikan sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran.
"Kalau hybrid itu masuk akal karena ada energi tegangan listrik dan uap bensin. Kalau salah satu faktor terbuka misalnya uap bensin dan tegangan tinggi itu pasti kebakaran, makanya kasusnya lebih besar," jelasnya.
Dia menegaskan data itu bukan hasil rekayasa. Menurut Prabowo, tingginya angka kebakaran hybrid konsisten dengan logika dua sistem energi yang bekerja berdampingan di ruang mesin yang sama.
Mobil Listrik Jarang Terbakar, tapi Paling Cepat Viral
Untuk kendaraan listrik murni, insiden kebakaran tercatat paling rendah dari ketiga kategori. Kendati begitu, Prabowo menyebut ada pemicu spesifik yang perlu diwaspadai pada EV.
Arus pendek akibat modifikasi kendaraan menjadi salah satu penyebab. Selain itu, thermal runaway pada baterai juga bisa memicu kebakaran, terutama jika sel baterai mengalami kerusakan atau overheat ekstrem.
Yang membuat mobil listrik terkesan lebih berbahaya bukan jumlah kasusnya, melainkan eksposurnya. Prabowo menyoroti bagaimana setiap insiden kebakaran EV langsung menyebar cepat di media sosial.
"Sebenarnya kasusnya nggak banyak tapi karena itu mobil listrik itu jadi viral karena terekspos," tuturnya.
Yang Perlu Dicatat dari Data Ini
Angka NTSB yang dipaparkan Periklindo memberi konteks berbeda dari persepsi publik. Selama ini mobil listrik sering dianggap paling rawan terbakar, padahal data justru menempatkannya di posisi paling aman dari tiga kategori.
Sebaliknya, mobil hybrid yang selama ini diposisikan sebagai jembatan transisi menuju elektrifikasi menyimpan risiko kebakaran tertinggi. Bukan karena teknologinya buruk, tapi karena kompleksitas dua sistem energi yang harus dikelola bersamaan.
Bagi calon pembeli, data ini bukan alasan menghindari hybrid. Tapi jadi pengingat bahwa perawatan rutin pada sistem kelistrikan tegangan tinggi dan jalur bahan bakar jadi lebih krusial dibanding pada mobil bensin konvensional.