LINKARFAKTA.COM — Campak masih menjadi penyakit menular yang perlu diwaspadai di Indonesia, terutama pada anak balita. Data WHO mencatat kasus campak di Indonesia pada 2022 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenali gejala campak sejak dini agar Bunda tidak terlambat memberikan penanganan yang tepat.

Campak dan flu memang sekilas sulit dibedakan pada hari-hari pertama. Keduanya sama-sama ditandai demam, hidung berair, dan batuk. Padahal, campak bisa berkembang menjadi kondisi serius kalau tidak dikenali sejak awal.

Apa Itu Campak dan Mengapa Berbahaya untuk Anak?

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan campak sebagai penyakit akut menular yang disebabkan virus dan umumnya menyerang anak-anak. Tingkat keparahannya bisa ringan hingga sedang, tapi penularannya sangat mudah melalui droplet atau partikel di udara.

Pada 2018, lebih dari 140.000 orang meninggal dunia akibat campak di seluruh dunia. Mayoritas kematian terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun, meski vaksin campak sudah tersedia dan terbukti aman serta efektif.

Data WHO menunjukkan kasus campak di Indonesia pada 2022 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sebelumnya sempat mengalami penurunan kasus campak dan rubella secara signifikan, namun tren ini berbalik.

Mengapa Campak Sulit Dikenali di Awal?

Gejala awal campak muncul sekitar 10 hingga 14 hari setelah anak terpapar virus. Dr. Radhika Vohra, dokter umum di Rumah Sakit Spire Gatwick Park, menjelaskan bahwa tahap awal campak tidak jauh berbeda dengan flu atau pilek biasa.

"Biasanya, campak pertama kali muncul sebagai gejala pilek," ucap Dr. Vohra, seperti dikutip dari The Telegraph.

Menurut Pavia, dokter yang dikutip dari CIDRAP, dirinya sering menemukan pasien dengan kondisi menyerupai flu selama musim gugur hingga awal musim semi. Situasi itu membuat campak makin sulit dikenali karena mirip dengan penyakit pernapasan yang umum muncul di periode tersebut.

Gejala Campak yang Perlu Bunda Perhatikan

Ada beberapa tanda yang bisa membantu Bunda membedakan campak dari flu biasa. Perhatikan kemunculannya secara berurutan, karena campak biasanya berkembang bertahap.

Dr. Vohra menambahkan, "Jadi, gejalanya seperti pilek selama beberapa hari, dan disertai demam tinggi, hidung berair atau tersumbat, bersin, batuk, mata merah, perih, dan berair. Kemudian, Si Kecil bisa mengalami bintik-bintik di mulut yang muncul di bagian dalam pipi atau di belakang bibir, atau ruam beberapa hari kemudian, terutama di wajah dan telinga, lalu menyebar ke seluruh tubuh."

Patsy Stinchfield, RN, MS, praktisi perawat anak sekaligus mantan presiden National Foundation for Infectious Diseases, menyebut salah satu gejala spesifik campak adalah sensitivitas yang sangat tinggi terhadap cahaya.

Kapan Bunda Perlu Lebih Waspada?

Ketika musim flu dan pilek mulai berakhir pada pertengahan April, kewaspadaan terhadap demam dan batuk justru perlu ditingkatkan. Pavia menyebut, "Ketika kasus flu dan RSV (respiratory syncytial virus) mulai menurun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan karena kemungkinan berkaitan dengan campak pada anak."

Banyak pasien juga tidak terbuka soal riwayat paparan campak yang mereka alami. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa beberapa kasus luput dari pengawasan.

Kalau Si Kecil menunjukkan gejala mirip flu yang disertai demam tinggi dan mata merah, segera konsultasikan ke dokter. Jangan menunggu ruam muncul untuk memeriksakan anak.

Peran Vaksin dalam Mencegah Campak

Peningkatan kasus campak di sejumlah wilayah dikaitkan dengan rendahnya cakupan vaksin MMR. Dr. Vohra menjelaskan, "Selama kurang lebih 20 tahun terakhir, cakupan vaksin kombinasi yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubella, yang diberikan kepada anak-anak berusia satu tahun dan sebelum memasuki usia sekolah, telah mengalami penurunan."

Dr. Vohra juga menambahkan, "Di wilayah London, kekebalan kelompok belum mencapai tingkat yang dibutuhkan." Kekebalan kelompok adalah perlindungan yang diperoleh masyarakat ketika cakupan vaksinasi dalam suatu populasi cukup tinggi.

Pastikan jadwal imunisasi Si Kecil lengkap dan tepat waktu. Langkah ini jadi cara paling efektif untuk melindungi anak dari campak sekaligus mencegah penyebarannya ke anak lain di sekitarnya.