LINKARFAKTA.COM — Presiden Prabowo Subianto menyoroti lonjakan laba sejumlah badan usaha milik negara pada semester I 2026, dengan PT Pupuk Indonesia mencatat kenaikan laba bersih 252,8 persen menjadi Rp8,51 triliun. Peningkatan ini disebut sebagai buah dari pembenahan tata kelola perusahaan negara yang selama ini menelan kerugian. Bagi masyarakat, perbaikan kinerja BUMN diharapkan berdampak langsung pada layanan publik dan harga komoditas strategis seperti pupuk.

Prabowo secara khusus menyinggung PT Pupuk Indonesia (Persero) yang berbalik dari rugi menjadi untung. "PT Pupuk yang dari dulu mengalami kerugian sekarang naik keuntungannya 252 persen. PT Pupuk Indonesia naik. BUMN yang dulu rugi sekarang untung," kata Prabowo sebagaimana dipantau secara daring.

Pupuk Indonesia Pimpin Lonjakan Laba

Berdasarkan data perusahaan, Pupuk Indonesia membukukan laba bersih Rp8,51 triliun pada semester I 2026. Capaian itu melesat 252,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,41 triliun.

Peningkatan kinerja Pupuk Indonesia berjalan seiring langkah pemerintah menurunkan harga pupuk. Artinya, perusahaan tetap mencetak laba lebih besar meski harga jual produk di tingkat petani ditekan.

Semen Indonesia dan Pertamina Ikut Melonjak

Selain Pupuk Indonesia, Prabowo menyebut laba bersih PT Semen Indonesia (Persero) Tbk naik sekitar 400 persen pada semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan setelah pidato tersebut, emiten berkode SMGR itu membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp207 miliar, atau meningkat sekitar 446 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejumlah BUMN lain juga mencatat pertumbuhan laba signifikan. PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan 86 persen, PT Pegadaian 84 persen, dan PT Perkebunan Nusantara 54 persen.

Angka-angka itu sebelumnya pernah disampaikan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Jakarta pada 14 Agustus 2026. Saat itu, ia menyebut laba bersih Semen Indonesia naik 408,9 persen, Pupuk Indonesia 252,8 persen, Pertamina 86 persen, Pegadaian 84,4 persen, dan PTPN 54,4 persen.

Konsolidasi Kekayaan Negara Jadi Kunci

Menurut Prabowo, peningkatan kinerja tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah melakukan konsolidasi dan memperbaiki pengelolaan kekayaan negara. Pembenahan BUMN dinilai perlu agar aset negara dapat dikelola secara efisien dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Perbaikan tata kelola perusahaan pelat merah menjadi salah satu agenda utama pemerintahan saat ini. Sejumlah BUMN yang sebelumnya membukukan kerugian kini berbalik mencetak laba, seiring penajaman bisnis inti dan efisiensi operasional.

Bagi publik, kinerja positif BUMN diharapkan tidak berhenti di atas kertas. Perusahaan seperti Pupuk Indonesia memegang peran strategis menjaga pasokan dan harga pupuk bagi petani, sementara Pertamina menguasai rantai energi nasional. Laba yang tumbuh memberi ruang fiskal lebih besar bagi negara, termasuk untuk subsidi dan program layanan publik.

Lonjakan laba semester I 2026 menjadi indikasi awal bahwa strategi konsolidasi BUMN mulai terasa. Yang masih menunggu pembuktian adalah apakah tren ini berlanjut hingga akhir tahun dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.