LINKARFAKTA.COM — Nama gitaris Guns N' Roses, Saul "Slash" Hudson, resmi diabadikan sebagai nama spesies ular baru dari hutan New Guinea, Lielaphis slashi. Ular berwarna cokelat kemerahan sepanjang sekitar 71 cm itu dideskripsikan dalam jurnal Zootaxa oleh tim peneliti Field Museum. Penamaan ini menambah daftar panjang spesies endemik Papua yang belum terdokumentasi sekaligus menyoroti tekanan habitat akibat pertanian kopi dan pertambangan.
Spesimen ular tersebut pertama kali ditemukan pada 2006 oleh Chris Austin saat penelitian lapangan malam hari di New Guinea. Pulau itu merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland, dengan wilayah terbagi antara Papua, Indonesia, dan Papua Nugini.
Mengapa Slash Dipilih Jadi Nama Ular
Sara Ruane, Associate Curator of Herpetology di Field Museum sekaligus penulis senior studi, mengaku penggemar berat Guns N' Roses sejak sekolah dasar. Ketertarikannya pada Slash bermula saat ia berusia 12 tahun, ketika melihat foto sang gitaris memegang ular piton retikulasi di sampul Reptiles Magazine.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Ruane mendapat kesempatan memberi nama spesies reptil baru, ia teringat kembali pada foto dan wawancara tersebut. Menurutnya, kecintaan Slash terhadap reptil, museum, kebun binatang, dan sejarah alam membuat sang gitaris layak diabadikan.
"Sebagai herpephile sejak lama, saya sangat terhormat dan terharu karena Lielaphis slashi dari New Guinea diberi nama sesuai nama saya. Benar-benar menarik, saya tak pernah membayangkan momen ini akan datang," ujar Slash dikutip dari Science Daily.
Ciri Fisik dan Analisis Genetik
Lielaphis slashi berwarna cokelat kemerahan dengan panjang sekitar 71 cm. Para ilmuwan melakukan analisis genetik untuk memastikan status taksonomi ular tersebut. Hasilnya, L. slashi memiliki perbedaan genetik dari spesies lain dalam genus yang sama.
Bukti itu diperkuat perbedaan karakteristik fisik, termasuk jumlah sisik, serta pemodelan ekologi yang menunjukkan perbedaan preferensi habitat. Meski memiliki gigi besar di bagian belakang mulut, L. slashi tidak diketahui memiliki bisa yang membahayakan manusia. Ular ini diperkirakan memangsa kadal kecil dan telur reptil.
Tekanan terhadap Habitat di New Guinea
Para peneliti memperingatkan bahwa habitat L. slashi menghadapi ancaman dari aktivitas manusia, terutama pertanian kopi dan pertambangan. Kawasan hutan New Guinea dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi yang hingga kini masih menyimpan banyak spesies belum terdokumentasi.
Penamaan resmi spesies ini dinilai penting untuk membantu ilmuwan memahami sekaligus melindungi keanekaragaman hayati New Guinea. Langkah serupa juga lazim dipakai peneliti untuk menarik perhatian publik pada spesies yang terancam.
Bagi peneliti di Indonesia, temuan ini menegaskan bahwa wilayah Papua masih menjadi laboratorium alam terbuka. Setiap spesies baru yang dideskripsikan memperkuat basis data biodiversitas sekaligus menambah alasan untuk memperketat pengawasan aktivitas tambang dan perkebunan di kawasan hutan.