LINKARFAKTA.COM — Modus penipuan booking hotel melalui WhatsApp mengancam keamanan data pribadi wisatawan. Kasus terbaru menimpa pemilik kafe di Singapura yang kehilangan dana hingga SGD 2.000 atau sekitar Rp 25 juta akibat tautan verifikasi palsu. Pelaku memanfaatkan celah komunikasi digital untuk mencuri informasi kartu kredit korban dalam hitungan menit.

Keamanan transaksi akomodasi online kini menjadi prioritas utama bagi pelancong. Muhammad Shaqil, pemilik Qyl's Coffee di Everton Park, Singapura, menjadi korban baru dari skema phishing yang menyamar sebagai notifikasi resmi hotel. Insiden ini terjadi pada Kamis, 10 September 2026, saat ia bersiap melakukan perjalanan kerja ke Frankfurt, Jerman.

Kronologi Kejadian dan Modus Operandi

Pesan penipuan dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp oleh akun bernama "Assine SKY". Isi pesan tersebut sangat meyakinkan karena mencantumkan detail reservasi yang akurat, termasuk nama hotel dan tanggal menginap yang sebelumnya dipesan Shaqil melalui platform Booking.com. Pelaku meminta korban segera memverifikasi kartu kredit agar status reservasi tetap aktif, dengan ancaman batas waktu hanya 12 jam.

Tergesa-gesa dan percaya pada validitas data yang ditampilkan, Shaqil membuka tautan yang disediakan. Ia kemudian memasukkan seluruh informasi sensitif terkait kartu kreditnya tanpa curiga. Langkah ini menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mengakses rekening bank korban secara langsung.

Dampak Finansial dan Respons Korban

Dalam waktu kurang dari 30 menit, hampir SGD 2.000 atau setara Rp 25 juta raib dari rekening Shaqil. Transaksi pertama dan kedua masing-masing bernilai USD 162 (sekitar Rp 2,9 juta), jumlah yang sengaja dibuat identik dengan harga kamar hotel untuk mengelabui sistem deteksi anomali bank. Namun, nominal transaksi berikutnya melonjak drastis sebelum akhirnya berhasil dihentikan oleh korban.

"Sejujurnya, saya cukup stres sejak kejadian itu. Jumlah tersebut sangat berarti bagi saya, terutama dengan berbagai persoalan yang sedang saya hadapi dalam menjalankan bisnis," kata Shaqil. Dana yang hilang seharusnya digunakan untuk biaya pemindahan lokasi kafenya ke tempat baru.

Lanjutan Kasus dan Tanggapan Platform

Setelah menyadari kejanggalan, Shaqil segera menghubungi pihak bank dan melaporkan kasus ini kepada polisi. Upaya pemulihan dana masih menunggu hasil penyelidikan perbankan. Ironisnya, pada malam yang sama, ia kembali menerima pesan serupa dari nomor berbeda dengan nama pengirim "Yas Tanzania", menunjukkan bahwa datanya mungkin telah tersebar ke jaringan penipu lain.

Hingga saat ini, pihak hotel belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai bagaimana data reservasi tersebut bocor. Sementara itu, Booking.com menegaskan bahwa mereka tidak pernah meminta detail kartu kredit melalui email, telepon, pesan teks, atau WhatsApp. Platform tersebut juga mengingatkan pengguna untuk tidak melakukan transfer bank di luar ketentuan konfirmasi resmi.

Tips Aman Bagi Traveler